Delapan Desa Dapat PNPM Pariwisata

Written by Disbudpar Banten on May 25th, 2012. Posted in News

PADA tahun ini delapan desa di Kabupaten Pandeglang akan mendapatkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pariwisata dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Delapan desa tersebut adalah Desa Caringin (Kecamatan Labuan), Desa Citeureup (Kecamatan Panimbang), Desa Sidamukti (Kecamatan SUkaresmi), Desa Citaman (Kecamatan Jiput), Desa Cilentung (Kecamatan Pulosari), Desa Pandat (Kecamatan Mandalawangi), Desa Sukamanah (Kecamatan Kaduhejo), dan Desa CIkadueun (Kecamatan Cipeucang).

Tarun, Pendamping PNPM Pariwisata Kabupaten Pandeglang, mengatakan, PNPM Mandiri Pariwisata dikucurkan pemerintah pusat sebagai penunjang program yang dikeluarkan sebelumnya, yakni Program Percepatan Infrastruktur Daerah (PPID) dan Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP). Kata Tarun, sasaran kegiatan ini adalah untuk mendorong kegiatan pariwisata lokal yang ada di delapan desa tersebut. “Dana PNPM Mandiri Pariwisata dipergunakan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat yang usahanya berkaitan dengan kepariwisataan,” kata Tarun, saat ditemui usai sosialisasi PNPM Mandiri Pariwisata di Kantor Desa Caringin, Kecamatan Labuan, Kamis (24/5).

Dikatakan, dana PNPM Mandiri Pariwisata ini berkisar antara Rp 70 juta hingga Rp 100 juta yang akan diberikan kepada badan keswadayaan masyarakat (BKM) yang telah dibentuk di desa.

Kepala Disbudpar Pandeglang Indah Dinarsiani membenarkan bahwa delapan desa di Kabupaten Pandeglang akan mendapatkan PNPM Mandiri Pariwisata. Kata Indah, program tersebut akan berlangsung selama tiga tahun. “Anggaran PNPM ini tidak ada pengembalian tetapi setiap BKM harus membuat laporan pertanggungjawaban setiap semester. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan terus mengucurkan anggaran ini jika BKM berkembang baik,” tuturnya.

Kosim, Kepala Desa Caringin, Kecamatan Labuan, menyambut baik wilayahnya termasuk yang akan mendapatkan dana PNPM Mandiri Pariwisata. “Mudah-mudahan dengan adanya program itu masyarakat kita bisa berwirausaha dan mengembangkan usahanya,” jelasnya. (mg-13/fau)

(Radar Banten, 25 Mei 2012)


Pemkab Mulai Siapkan Pembangunan KEK Pariwisata

Written by Disbudpar Banten on May 9th, 2012. Posted in News

PANDEGLANG – Pemkab Pandeglang mulai membahas rencana pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Tanjung Lesung dengan menggelar rapat persiapan pelaksanaan tugas, di tuang operation room Pemkab Pandeglang, Senin (7/5).

Hadir dalam rapat ini Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pandeglang Mahmud Ali, Kabag Hukum Setda Pandeglang Hermawan, Kabag Organisasi dan Tata Laksana Setda Pandeglang Ahmad Taufik Yusuf, Kabid Ekonomi dan Penanaman Modal Bappeda Pandeglang Yamin Bunyamin, dan Kabag Humas Anwari Husnira.

Sekretaris Bappeda selaku sekretaris Tim Persiapan Pembangunan KEK Pariwisata Tanjung Lesung Mahmud Ali usai rapat mengatakan, rapat persiapan ini merupakan tindak lanjut keluarnya SK Bupati Nomor 556/Kep-77-Huk/2012 tentang Pembentukan Tim Persiapan Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Tanjung Lesung. “Tujuan dari rapat ini adalah sebagai persiapan agar para anggota tim persiapan pembangunan KEK memahami tugas kerja masing-masing,” katanya.

Menurut Ali, tim dibagi kepada dua kelompok kerja (Pokja), yaitu Pokja Legislasi dan Pokja Advokasi. “Pokja legislasi bertugas membahas dan menyusun draf rancangan peraturan daerah dan SOTK administrator kawasan dan pokja advokasi bertugas membahas dan menyusun rencana aksi daerah dalam menunjang pembangunan KEK serta menyiapkan dan membahas materi sosialisasi,” katanya.

Kabag Hukum Hermawan menambahkan, pokja legislasi juga memiliki tugas membahas dan menyusun draf Rancangan Peraturan Daerah tentang Insentif dan Disinsentif Pengenaan Pajak dan Retribusi pada KEK. (zis/fau)

(Radar Banten, 8 Mei 2012)


Tradisi Seba Baduy untuk Lestarikan Alam

Written by Disbudpar Banten on May 1st, 2012. Posted in News

SEBA Baduy 2012 yang dipusatkan di Pendopo Gubernur Banten berlangsung meriah. Berbagai elemen menghadiri acara tahunan itu, mulai dari pejabat, pelaku seni, wartawan hingga masyarakat biasa turut menyaksikan acara itu. Kedatangan warga Baduy langsung disambut oleh Gubernur Banten Hj Ratu Atut Chosiyah, Wakil Gubernur H Rano Karno, Sekda H Muhadi, Kepala Disbudpar Ajak Moeslim, Ketua MUI AM Romli, para pejabat dan lain-lain.

Pada Sabtu (28/4) malam, masyarakat Baduy yang datang ke Pendopo terlihat rapi. Mereka duduk dengan tenang tanpa mengeluarkan suara. Mereka mengenakan pakaian hitam-hitam, ada juga yang mengenakan pakaian putih dengan ikat kepala yang khas. Mereka terdiri dari orang tua dan anak-anak. Tak ada perempuan yang ikut serta pada acara seba tersebut. Usai diterima Ibu Gede Hj Ratu Atut Chosiyah, mereka kemudian menyaksikan pertunjukan wayang golek yang dibawakan dalang Entih Arsawijaya dari Desa Cilayang, kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang.

Dari 11.174 populasi warga Baduy, hanya 1.388 orang saja yang mengikuti acara ke Pendopo Gubernur baik dari Baduy Dalam dan Baduy Luar. Tema kali ini adalah “Ngasuh Ratu Ngajak Menak, Mageuhkeun Tali Daduluran, Ngajaga Lingkungan, Pamarentah Negakeun Hukum Jeung Keadilan”.

Secara simbolis ritual itu ditandai dengan ungkapan seba atau salam dalam bentuk sejumlah pernyataan atau permohonan kepada pemerintah Provinsi Banten. Dalam ungkapan atau permohonan tersebut, mereka meminta pemerintah agar bisa menjaga alam, air dan kelestarian hutan serta menegakan hukum demi ketentraman dan keselamatan masyarakat.

Kata-kata permohonan dalam ritual seba tersebut disampaikan tokoh adat Baduy yang mewakili 12 tokoh adat masyarakat Baduy yang dikenal dengan Jaro Tangtu 12 yakni Jaro Saidi. Ungkapan itu diucapkan dalam Bahasa Sunda khas masyarakat adat Baduy. Setelah menyampaikan permohonan, secara simbolis mereka juga menyerahkan sejumlah barang bawaan berupa hasil bumi atau hasil pertanian seperti beragam hasil bumi, seperti beras, pisang, gula merah, petai, talas dan lain-lain.

Gubernur Banten Hj Ratu Atut Chosiyah mengatakan, seba Baduy merupakan bagian dari budaya khas Banten sehingga mendapat perhatian dari wisatawan baik lokal maupun mancanegara. “Kegiatan ini harus dilestarikan keberadaannya. Ibu Gede (Atut menyebut dirinya,red) juga mengucapkan terima kasih atas kiriman hasil buminya. Semoga hasil bumi warga baduy terus melimpah,” katanya.

Gubernur Atut juga berbicara dalam Bahasa Sunda. Pada prinsipnya pemerintah siap untuk melestarikan alam untuk kesejahteraan masyarakat. “Kunaon warga Baduy anu awewe teu dibawa kadieu? Padahal Ibu Gede hayang silaturahmi,” kata Atut yang artinya mengapa warga Baduy perempuan tidak ikut serta ke sini? Padahal Ibu Gede ingin silaturahmi.

JALAN KAKI 80 KM
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Banten Ajak Moeslim mengatakan, seba Baduy merupakan upacara adat tradisi sakral asli dari warga SUku Baduy yang tinggal di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Seba Baduy ini merupakan peristiwa budaya, bahkan seba Baduy ini sudah dilaksanakan secara turun menurun sejak zaman Kesultanan Banten. “Jumlah warga Baduy yang datang ke Pendopo sebanyak 1.388 orang atau tidak kurang dari delapan persen dari jumlah penduduk baduy yang jumlahnya mencapai 11.174 orang. Mereka datang mewakili dari 56 perkampungan Baduy, diantaranya dari Kampung Cikeusik, Cibeo, Ciboleger dan Cikatawarna,” katanya.

Dijelaskan Ajak, untuk perwakilan warga Baduy yang mengenakan baju dan ikat kepala putih datang ke Serang sebanyak 51 orang dengan berjalan kaki dari Rangkasbitung menuju Serang dengan menempuh perjalanan kurang lebih 80 kilometer atau 10 jam. Warga Baduy dalam mengikuti adat yang mereka pegang, yakni berjalan kaki dari perkampungan mereka di Kanekes menuju Rangkasbitung dan Serang. Demikian pula waktu pulang, mereka pantang naik kendaraan.

Menurut Ajak, seba Baduy merupakan diplomasi budaya, seba Baduy berasal dari kata sabah berarti berpergian jauh untuk meningkatkan silaturahmi antara masyarakat Kanekes dengan pemerintah setempat. Ritual seba diadakan setahun sekali, sesuai peninggalan leluhur Baduy, ritual seba sendiri berarti mendatangi atau bersilaturahim kepada pemimpin mereka yang tidak lain adalah Gubernur Banten. Mereka akan memberikan persembahan hasil bumi kepada Gubernur sebagai bentuk rasa terima kasih warga Baduy terhadap pemimpinnya. Namun, sebelum kegiatan seba ini dumulai, para warga baduy sebelumnya melakukan ritual kawulu atau melakukan puasa sebagai konsekuensi untuk menjaga lingkungan.

“Sebelum melaksanakan seba di pemerintahan Provinsi Banten, warga Baduy Luar dan Baduy Dalam ini juga melaksanakan kegiatan serupa di kantor Bupati lebak pada Jumat malam,” katanya.

LESTARIKAN ALAM
Sedangkan Kepala Desa kanekes Jaro Dainah mengatakan, seba ini untuk bersilaturahmi kepada pemerintah yang dilakukan setahun sekali. Selain bersilaturahmi, masyarakat Baduy mengajak kepada pemerintah setempat untuk menjaga kelestarian lingkungan seperti Gunung Pulosari, Gunung Karang dan Gunung Aseupan agar tidak boleh dirusak oleh manusia. Karena jika alam mengalami kerusakan maka bisa mengakibatkan bencana alam, gempa bumi, dan lain-lain. “Sebelum seba ini kami laksanakan, kami ada rapat dulu dengan para kolot-kolot (para sesepuh, red) yang ada di Baduy. Intinya agar kelestarian alam di kawasan suku baduy tidak dirusak,” kata Dainah.

Senada dikatakan Puun atau Tetua Adat Baduy Dalam Jaro Tangtu ketujuh yakni Mursyid. Katanya, kegiatan ritual tahunan warga Baduy tersebut dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur dan menjalin silaturahmi kepada pemerinta Provinsi Banten, setelah warga suku pedalaman di Banten Selatan tersebut melaksanakan panen hasil pertanian. “Intinya kami menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada pemerintah. Kami juga berpesan agar pemerintah bisa melindungi kami dan hutan yang ada di daerah kami,” kata Mursyid atau biasa dipanggil Ayah Mursyid ini. (ADV)

(Radar Banten, 30 April 2012)


Histografi Kebudayaan Suku Baduy

Written by Disbudpar Banten on May 1st, 2012. Posted in News

PENGERTIAN
Histogrfi dapat diartikan sebagai sejarah intelektual atau mentalitas. Histografi juga mengajarkan untuk mencari sebuah pemikiran seorang penulis sejarah. Dalam hal ini sejarawan akan mengalami proses pemahaman untuk mengerti subjektivitas penulis sejarah. Penulis sejarah akan selalu aktif melakukan seleksi terhadap gejala yang diamatinya. Gejala yang diamati akan menjadi titik pendirian masa kini yang dijadikan faktor penentu perhatian seseorang terhadap gejala masa lampau.

SEJARAH BADUY
Orang Kanekes atau orang Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Sebutan “Baduy” merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau “orang Kanekes” sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo (Garna, 1993).

WILAYAH
Wilayah Kanekes secara geografis terletak pada koordinat 6°27’27″-6°30’0″ LS dan 108°3’9″-106°4’55″ BT tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak berjarak sekitar 38 km dari kota Rangkasbitung. Luas areal sekitar 5.101 hektar, Pegunungan Kendeng memiliki ketinggian 300-600 meter di atas permukaan laut (DPL) dengan topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45%, yang merupakan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah), dan tanah campuran (di bagian selatan). Suhu rata-rata 20°C.
Panorama alam yang indah dan dikelilinginya sungai yang jernih dengan dihiasi hamparan hutan tropis adalah nuansa alam eksotis di Baduy, rumah-rumah asli kampung masih bergaya arsitektur tradisional yang berjajar rapi mencerminkan bahwa masyarakat Baduy hidup harmonis dengan alam dan lingkungannya.

BAHASA
Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek Sunda-Banten. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Kanekes ‘dalam’ tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.

ASAL-USUL
Menurut kepercayaan yang mereka anut, orang Kanekes mengaku keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk  menjaga harmoni dunia.
Namun versi lain mengatakan bahwa masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda wilayah ujung barat Pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda. Dimana Banten merupakan pelabuhan dagang yang besar dengan Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umun menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal masyarakat Baduy yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu sungai Ciujung di Gunung kendeng tersebut (Adimiharja, 2000).

KEPERCAYAAN
Kepercayaan masyarakat Kanekes disebut sebagai Sunda Wiwitan berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) yang pada perkembangan selanjutnya juga dipengaruhi oleh agama Budha, Hindu, dan Islam. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna, 1993). Isi terpenting dari ‘pikukuh’ (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep “tanpa perubahan apapun”, atau perubahan sesedikit mungkin.
Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Kanekes adalah Arca Domas yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. Orang Kanekes mengunjungi lokasi tesebut untuk melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan Kalima, yang pada tahun 2003 bertepatan dengan bulan Juli. hanya puun yang merupakan ketua adat tertinggi dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut.

KELOMPOK DALAM MASYARAKAT KANEKES
Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu, panamping, dan dangka (Permana, 2001):

  1. Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Baduy Dalam, yang paling ketat mengikuti adat yaitu warga yang tinggal di tiga kampung: Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Ciri khas Orang Baduy Dalam adalah pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua serta memakai ikat kepala putih.
  2. Kelompok masyarakat panamping adalah mereka yang dikenal sebagai baduy Luar, yang tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Baduy Dalam, seperti Cikadu, Kaduketug, kaduolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. masyarakat baduy Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam.
  3. Kelompok masyarakat dangka adalah masyarakat yang tinggal di luar wilayah Kanekes, dan pada saat ini tinggal 2 kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kampung Dangka tersebut berfungsi sebagai semacam buffer zone atas pengaruh dari luar.

PEMERINTAHAN
Masyarakat Kanekes mengenal dua sistem pemerintahan:

  1. Sistem nasional, dimana sistem pemerintahan ini mengikuti aturan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
  2. Sistem adat, dimana sistem yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya masyarakat.

Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan sedemikianrupa sehingga tidak terjadi perbenturan. Secara nasional penduduk Kanekes dipimpin oleh kepala desa yang disebut sebagai jaro pamarentah, yang ada di bawah camat, sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat Kanekes yang tertinggi, yaitu “Puun”.

MATA PENCAHARIAN
Mata pencaharian utama masyarakat Kanekes adalah bertani padi huma. Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian dan asam keranji, serta madu hutan.

INTERAKSI DENGAN MASYARAKAT LUAR
Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat istiadat bukan merupakan masyarakat terasing, terpencil, ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar. Perdagangan yang pada waktu yang lampau dilakukan secara barter, sekarang ini telah mempergunakan mata uang rupiah biasa terkecuali Baduy Dalam.
Sebagai tanda kepatuhan/ pengakuan kepada penguasa, masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan seba ke Kesultanan Banten. Sampai sekarang, upacara seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali, berupa menghantar hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepada Gubernur Banten. Pada umumnya mereka pergi dalam rombongan kecil yang terdiri dari 3 sampai 5 orang, berkunjung ke rumah kenalan yang pernah datang ke Baduy sambil menjual madu dan hasil kerajinan tangan.

KESENIAN
Dalam melaksanakan upacara tertentu, masyarakat Baduy menggunakan kesenian untuk memeriahkannya. Adapun keseniannya yaitu Seni Musi (lagu daerah yaitu Cikarileu dan Kidung (pantun) yang digunakan dalam acara pernikahan). Alat musik (angklung Buhun dalam acara menanam padi dan alat musik kecapi). Dan seni Ukir Batik.

PERALATAN DAN TEKNOLOGI
Kehidupan orang Baduy berpusat pada daur pertanian yang diolah dengan menggunakan peralatan yang masih sangat sederhana. Dalam adat Baduy terutama Baduy Dalam, masyarakat tidak boleh menggunakan peralatan yang sudah modern. Mereka mengandalkan peralatan yang masih sangat primitive seperti bedog, kampak, cangkul dan lain-lain.

SISTEM PENGETAHUAN
Sistem pengetahuan orang Baduy adalah Pikukuh yaitu memegang teguh segala perangkat peraturan yang diturunkan oleh leluhurnya. Dalam hal pengetahuan ini, orang Baduy memiliki tingkat toleransi, tata krama, jiwa sosial, dan teknik bertani yang diwariskan oleh leluhurnya. Dalam pendidikan modern orang Baduy masih tertinggal jauh namun mereka belajar secara otodidak. Jadi sebetulnya orang Baduy sangat informasional sekali sebetulnya, tahu banyak informasi. Hal ini ditunjang karena kegemaran sebagai orang rawayan (pengembara). (ADV)

sumber: Dinas Budaya dan Pariwisata Provinsi Banten

(Radar Banten, 30 April 2012)


Disbudpar Usulkan Anggaran Rp16 Miliar

Written by Disbudpar Banten on April 24th, 2012. Posted in News

SERANG, (KB).-
Disbudpar Banten mengusulkan pagu anggaran 2013 senilai Rp16 miliar. Anggaran tersebut antara lain dialokasikan untuk perbaikan infrastruktur penunjang pariwisata.

“Angka Rp16 miliar itu baru pagu indikatif hasil rapat koordinasi dengan kab./kota beberapa waktu lalu,” kata Sekretaris Disbudpar Banten Teddy Rukman, kemarin.

Ia mengatakan, berdasarkan usulan kab./kota, anggaran tersebut memang paling banyak dialokasikan untuk perbaikan infrastruktur penunjang pariwisata, seperti toilet, cottage dan jalan menuju objek wisata.

Menurut dia, penataan objek wisata merupakan tanggung jawab kab./kota. Pasalnya, kab./kota yang menarik Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata tersebut. Namun demikian, kata dia, kab./kota menginginkan pemprov membantu dalam hal penataan objek wisata, termasuk juga dalam hal promosi wisata.

Tedy mengungkapkan, untuk promosi pihaknya telah melakukan promosi antara lain melalui media elektronik dan cetak. selain itu, melalui berbagai event-event tertentu, Disbudpar juga turut ambil bagian.

Mengenai penataan objek wisata, Tedy mengatakan, kalau mengandalkan anggaran dalam APBD tentu tidak mencukupi sesuai kebutuhan. Oleh karena itu, pelaksanaannya bisa melakukan kerja sama dengan pihak swasta.

“Misalnya, pembangunan toilet. Kebutuhan dua toilet tetapi anggaran cuma untuk satu toilet berarti satu toilet lagi bisa dikerjasamakan dengan pihak swasta,” ucapnya.

Kepala Disbudpar Banten Ajak Moeslim mengatakan, usulan program Disbudpar acuannya pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Menurut dia, karena fokusnya infrastruktur, Disbudpar juga menyesuaikan dengan program yang tertuang dalam RPJMD tersebut.

“Perbaikan infrastruktur pariwisata bukan hanya di wilayah selatan Banten saja, tetapi juga daerah lain,” katanya.

Namun demikian, Ajak mengatakan, pada 2013 memang pihaknya akan mengalokasikan dukungan anggaran untuk pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata. (H-32)***

(Kabar Banten, 24 April 2012)