Festival Cisadane, Festival Budaya Kota Tangerang

Written by Disbudpar Banten on June 12th, 2012. Posted in News

KOTA Tangerang memiliki festival wisata tahunan yang bisa menjadi ikon wisata kota industri Tangerang. Festival Cisadane, demikian sebutan Festival ini, telah berlangsung sejak tahun 1993 dan untuk tahun 2012, melalui Dinas Pemuda Olahraga budaya dan Pariwisata (Disporbudpar) akan dibuka pada 20 Juni oleh Walikota H Wahidin Halim, dengan mengambil lokasi di Jalan Beringin, Kelurahan Grendeng, Kecamatan Karawaci, pukul 09.30 WIB.

Festival tersebut diharapkan Kepala Disporbudpar setempat, Tabrani, akan menjadi event nasional dan internasional. Event budaya ini selalu diadakan di tepian Sungai Cisadane, untuk tahun ini di Jalan Beringin dan akan berlangsung hingga tanggal 24 Juni. Dalam Festival Cisadane biasanya diadakan perlombaan perahu naga, kole-kole, dan perahu tradisional, yang diikuti pedayung-pedayung se-Jabodetabek serta kota-kota besar lainnya di Nusantara.

Dalam Festival Cisadane, Pemkot Tangerang menyediakan panggung untuk menampilkan berbagai hiburan dari pagi hingga malam hari. “Beragam acara dimeriahkan dalam acara ini diantaranya pameran, parade budaya, hiburan, sampai dengan lomba lomba seni,” ujarnya.

Sebenarnya, kata Tabrani, ada unsur sejarah yang juga dapat diambil dari lomba perahu ini. Festival Cisadane biasanya dirayakan bersama perayaan Peh Cun yang sejak puluhan tahun lalu digelar di Sungai Cisadane. Tidak heran bila Festival Cisadane menampilkan beragam kesenian tradisional semisal Gambang Kromong, Cokek, tarian khas Tangerang, hingga yang aslinya berasal dari Cina.

Itu sebabnya Festival Cisadane pun memperlihatkan keragaman budaya Tangerang, sebuah kota yang dihuni pendatang dari Cina, Betawi, Jawa, serta kelompok etnis lainnya. Keragaman inilah yang melahirkan kekayaan seni budaya serta ragam makanan khas. “Di event ini disuguhkan produk-produk UKM unggulan yang tersebar di 13 Kecamatan Kota Tangerang,’ tandasnya.

Namun menurutnya, tahun ini, Festival Cisadane agak berbeda dibanding sebelumnya. Kali ini diwarnai arak-arakan Piala Adipura dengan mobil hias yang akan digelar pada acara pembukaan. “Di hari terakhir, rencananya akan ada acara jalan santai yang dihadiri Menteri BUMN Dahlan Iskan,” tukasnya.

Sekedar diketahui, pada Festival Cisadane ini ada yang namanya tradisi menyantap bacang yang biasa dilakukan dalam perayaan Peh Cun, juga dilakukan saat lomba perahu naga. Selain itu, ada pula prosesi menabur bunga di tengah Sungai Cisadane serta tradisi melepas bebek, yang biasanya dilakukan oleh orang yang telah terkabul impiannya. yang juga menarik adalah permainan mendirikan telur pada bidang datar. (Adv)***

(Kabar Banten, 12 Juni 2012)


Tanjung Lesung & Anyer-Carita

Written by Disbudpar Banten on May 31st, 2012. Posted in News

Oleh EI NURUL KHOTIMAH

DITETAPKANNYA KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) Pariwisata Tanjung Lesung, Banten oleh Pemerintah Pusat tahun 2011 berarti potensi pariwisata di Banten lebih baik ketimbang Bangka Belitung dan Nusa Tenggara Barat. Semula ketiga daerah provinsi tersebut bersaing ketat untuk menjadi KeK Pariwisata, akhirnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memilih Tanjung Lesung, Banten karena memiliki beberapa keunggulan komperatif.

Keunggulan yang dimiliki Banten antara lain, daerah ini memiliki banyak objek wisata yang tersebar dan bervariasi. Dari panorama alam yang indah, pantai pasir putih, terumbu karang, gunung, danau dan taman nasional merupakan kekayaan alam yang tak tertandingi oleh daerah lain. Disamping alamnya yang indah, daerah ini juga memiliki banyak kesenian daerah seperti dedus, gacle, rampak bedug, terbang gede yang tidak dimiliki daerah lain. Demikian pula dengan wisata kulinernya yang beragam seperti rabeg, panggang sum-sum, sate bandeng, sate bebek dan kikiping yang bisa membuat konsumen menjadi ketagihan.

Disamping memiliki potensi alam yang belum dikelola secara profesional, Banten juga secara geografis berada di lintasan transportasi yang strategis. Misalnya berada di lintasan jalan raya trans Jawa-Sumatera yang tak pernah sepi kendaraan bermotor. Banten juga berada di lintasan transportasi laut internasional Selat Sunda. Kemudian memiliki pula Bandara Internasional Soekarno-Hatta, sebagai pintu gerbang masuknya wisatawan mancanegara ke Indonesia. Ditambah lagi daerah ini berada tak jauh dari Jakarta, sebagai ibu kota negara.

Dengan keunggulan komparatif yang dimiliki daerah ini seharusnya sektor pariwisata berkembang pesat dan angka kunjungan wisatawan meningkat tajam. Tetapi yang terjadi sekarang, justru wisatawan yang berkunjung ke Banten cenderung menurun disebabkan jalan-jalan menuju objek wisata dalam kondisi rusak berat.

Kenyataan yang terjadi sekarang, warga Ibu Kota Jakarta ternyata lebih suka berlibur akhir pekan ke Puncak atau ke Bandung ketimbang ke Banten. Padahal kita tahu, bahwa lalu lintas kendaraan bermotor menuju Puncak atau Bandung macet.Tetapi wisatawan yang berasal dari kota metropolitan Jakarta tetap memilih berlibur ke sana.

Menurut penulis, faktor penyebab menurunnya minat wisatawan berkunjung ke Banten perlu segera diantisipasi. Jika infrastruktur menjadi salah satu penyebabnya, Pemprov Banten harus segera memperbaikinya. Kalau dibiarkan terus berlarut-larut akan menimbulkan kesenjangan sosial di masyarakat, sebab dengan menurunnya wisatawan berkunjung ke Banten angka pengangguran akan meningkat drastis. Penyebabnya karena mereka tak bisa lagi bekerja sebagai penjual jasa atau sebagai berdagang asongan.

Anak tiri
Dengan ditetapkannya KEK Pariwisata Tanjung Lesung tidak berarti kawasan wisata lain harus menjadi anak tiri dan kurang mendapat perhatian Pemprov Banten. Kawasan wisata purbakala Banten Lama dan kawasan wisata pantai Anyer-Carita harus tetap menjadi perhatian Disbudpar Banten. Karena kedua kawasan wisata tersebut merupakan primadona objek wisata di Banten yang banyak mendatangkan wisatawan.

Rencana pemerintah akan membangun jalan tol Serang-Panimbang 83 km dan lapangan terbang di Tanjung Lesung, menurut penulis perlu terlebih dahulu dilakukan kajian secara mendalam. Jangan sampai terjadi proyek yang dibangun dengan biaya mahal usianya tidak berumur panjang. Contohnya seperti lapangan terbang Nusa Wiru di Pangandaran, Ciamis dan lapangan terbang di Tanatoraja, Sulawesi Selatan yang tidak berumur panjang karena kurang diminati wisatawan. Rombongan wisatawan yang datang ke objek wisata tersebut lebih suka memilih jalan darat ketimbang lewat udara.

Memang harus diakui, transportasi lewat udara hanya dinikmati oleh segelintir orang kaya saja, sedangkan jalan raya yang mulus bisa dinikmati oleh si kaya dan si miskin. Sebab itu jalan mulus harus menjadi tekad dan semangat untuk membangun Banten ke depan.

Sebenarnya Gubernur Banten, Hj. Atut Chosiyah paham bahwa, sektor pariwisata mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi. Sebab bukti seriusnya gubernur perhatian terhadap sektor pariwisata, Pemprov Banten telah menerbitkan Instruksi Gubernur Banten No. 1 tahun 2006 tentang Kebijakan Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata. Kebijakan ini merupakan penjabaran dari Inpres No. 16 tahun 2005 tentang Pariwisata agar sektor pariwisata mendapat dukungan dari kementerian terkait yang erat kaitannya dengan pariwisata.

Selain Instruksi Gubernur Banten, telah diterbitkan pula Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (Ripda) dan Perda No. 9 tahun 2005 tentang pariwisata. Ini semua tak lain untuk mempercepat pertumbuhan pariwisata di Banten. Sayangnya program yang baik ini kurang mendapat dukungan SKPD terkait. Buktinya sekarang banyak ruas jalan menuju objek wisata dalam kondisi rusak berat. Sehingga tak sedikit wisatawan yang membatalkan niatnya berlibur ke Banten.***

Penulis, Wakil Ketua DPRD Provinsi Banten

(Kabar Banten, 30 Mei 2012)


Delapan Desa Dapat PNPM Pariwisata

Written by Disbudpar Banten on May 25th, 2012. Posted in News

PADA tahun ini delapan desa di Kabupaten Pandeglang akan mendapatkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pariwisata dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Delapan desa tersebut adalah Desa Caringin (Kecamatan Labuan), Desa Citeureup (Kecamatan Panimbang), Desa Sidamukti (Kecamatan SUkaresmi), Desa Citaman (Kecamatan Jiput), Desa Cilentung (Kecamatan Pulosari), Desa Pandat (Kecamatan Mandalawangi), Desa Sukamanah (Kecamatan Kaduhejo), dan Desa CIkadueun (Kecamatan Cipeucang).

Tarun, Pendamping PNPM Pariwisata Kabupaten Pandeglang, mengatakan, PNPM Mandiri Pariwisata dikucurkan pemerintah pusat sebagai penunjang program yang dikeluarkan sebelumnya, yakni Program Percepatan Infrastruktur Daerah (PPID) dan Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP). Kata Tarun, sasaran kegiatan ini adalah untuk mendorong kegiatan pariwisata lokal yang ada di delapan desa tersebut. “Dana PNPM Mandiri Pariwisata dipergunakan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat yang usahanya berkaitan dengan kepariwisataan,” kata Tarun, saat ditemui usai sosialisasi PNPM Mandiri Pariwisata di Kantor Desa Caringin, Kecamatan Labuan, Kamis (24/5).

Dikatakan, dana PNPM Mandiri Pariwisata ini berkisar antara Rp 70 juta hingga Rp 100 juta yang akan diberikan kepada badan keswadayaan masyarakat (BKM) yang telah dibentuk di desa.

Kepala Disbudpar Pandeglang Indah Dinarsiani membenarkan bahwa delapan desa di Kabupaten Pandeglang akan mendapatkan PNPM Mandiri Pariwisata. Kata Indah, program tersebut akan berlangsung selama tiga tahun. “Anggaran PNPM ini tidak ada pengembalian tetapi setiap BKM harus membuat laporan pertanggungjawaban setiap semester. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan terus mengucurkan anggaran ini jika BKM berkembang baik,” tuturnya.

Kosim, Kepala Desa Caringin, Kecamatan Labuan, menyambut baik wilayahnya termasuk yang akan mendapatkan dana PNPM Mandiri Pariwisata. “Mudah-mudahan dengan adanya program itu masyarakat kita bisa berwirausaha dan mengembangkan usahanya,” jelasnya. (mg-13/fau)

(Radar Banten, 25 Mei 2012)


Pemkab Mulai Siapkan Pembangunan KEK Pariwisata

Written by Disbudpar Banten on May 9th, 2012. Posted in News

PANDEGLANG – Pemkab Pandeglang mulai membahas rencana pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Tanjung Lesung dengan menggelar rapat persiapan pelaksanaan tugas, di tuang operation room Pemkab Pandeglang, Senin (7/5).

Hadir dalam rapat ini Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pandeglang Mahmud Ali, Kabag Hukum Setda Pandeglang Hermawan, Kabag Organisasi dan Tata Laksana Setda Pandeglang Ahmad Taufik Yusuf, Kabid Ekonomi dan Penanaman Modal Bappeda Pandeglang Yamin Bunyamin, dan Kabag Humas Anwari Husnira.

Sekretaris Bappeda selaku sekretaris Tim Persiapan Pembangunan KEK Pariwisata Tanjung Lesung Mahmud Ali usai rapat mengatakan, rapat persiapan ini merupakan tindak lanjut keluarnya SK Bupati Nomor 556/Kep-77-Huk/2012 tentang Pembentukan Tim Persiapan Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Tanjung Lesung. “Tujuan dari rapat ini adalah sebagai persiapan agar para anggota tim persiapan pembangunan KEK memahami tugas kerja masing-masing,” katanya.

Menurut Ali, tim dibagi kepada dua kelompok kerja (Pokja), yaitu Pokja Legislasi dan Pokja Advokasi. “Pokja legislasi bertugas membahas dan menyusun draf rancangan peraturan daerah dan SOTK administrator kawasan dan pokja advokasi bertugas membahas dan menyusun rencana aksi daerah dalam menunjang pembangunan KEK serta menyiapkan dan membahas materi sosialisasi,” katanya.

Kabag Hukum Hermawan menambahkan, pokja legislasi juga memiliki tugas membahas dan menyusun draf Rancangan Peraturan Daerah tentang Insentif dan Disinsentif Pengenaan Pajak dan Retribusi pada KEK. (zis/fau)

(Radar Banten, 8 Mei 2012)


Tradisi Seba Baduy untuk Lestarikan Alam

Written by Disbudpar Banten on May 1st, 2012. Posted in News

SEBA Baduy 2012 yang dipusatkan di Pendopo Gubernur Banten berlangsung meriah. Berbagai elemen menghadiri acara tahunan itu, mulai dari pejabat, pelaku seni, wartawan hingga masyarakat biasa turut menyaksikan acara itu. Kedatangan warga Baduy langsung disambut oleh Gubernur Banten Hj Ratu Atut Chosiyah, Wakil Gubernur H Rano Karno, Sekda H Muhadi, Kepala Disbudpar Ajak Moeslim, Ketua MUI AM Romli, para pejabat dan lain-lain.

Pada Sabtu (28/4) malam, masyarakat Baduy yang datang ke Pendopo terlihat rapi. Mereka duduk dengan tenang tanpa mengeluarkan suara. Mereka mengenakan pakaian hitam-hitam, ada juga yang mengenakan pakaian putih dengan ikat kepala yang khas. Mereka terdiri dari orang tua dan anak-anak. Tak ada perempuan yang ikut serta pada acara seba tersebut. Usai diterima Ibu Gede Hj Ratu Atut Chosiyah, mereka kemudian menyaksikan pertunjukan wayang golek yang dibawakan dalang Entih Arsawijaya dari Desa Cilayang, kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang.

Dari 11.174 populasi warga Baduy, hanya 1.388 orang saja yang mengikuti acara ke Pendopo Gubernur baik dari Baduy Dalam dan Baduy Luar. Tema kali ini adalah “Ngasuh Ratu Ngajak Menak, Mageuhkeun Tali Daduluran, Ngajaga Lingkungan, Pamarentah Negakeun Hukum Jeung Keadilan”.

Secara simbolis ritual itu ditandai dengan ungkapan seba atau salam dalam bentuk sejumlah pernyataan atau permohonan kepada pemerintah Provinsi Banten. Dalam ungkapan atau permohonan tersebut, mereka meminta pemerintah agar bisa menjaga alam, air dan kelestarian hutan serta menegakan hukum demi ketentraman dan keselamatan masyarakat.

Kata-kata permohonan dalam ritual seba tersebut disampaikan tokoh adat Baduy yang mewakili 12 tokoh adat masyarakat Baduy yang dikenal dengan Jaro Tangtu 12 yakni Jaro Saidi. Ungkapan itu diucapkan dalam Bahasa Sunda khas masyarakat adat Baduy. Setelah menyampaikan permohonan, secara simbolis mereka juga menyerahkan sejumlah barang bawaan berupa hasil bumi atau hasil pertanian seperti beragam hasil bumi, seperti beras, pisang, gula merah, petai, talas dan lain-lain.

Gubernur Banten Hj Ratu Atut Chosiyah mengatakan, seba Baduy merupakan bagian dari budaya khas Banten sehingga mendapat perhatian dari wisatawan baik lokal maupun mancanegara. “Kegiatan ini harus dilestarikan keberadaannya. Ibu Gede (Atut menyebut dirinya,red) juga mengucapkan terima kasih atas kiriman hasil buminya. Semoga hasil bumi warga baduy terus melimpah,” katanya.

Gubernur Atut juga berbicara dalam Bahasa Sunda. Pada prinsipnya pemerintah siap untuk melestarikan alam untuk kesejahteraan masyarakat. “Kunaon warga Baduy anu awewe teu dibawa kadieu? Padahal Ibu Gede hayang silaturahmi,” kata Atut yang artinya mengapa warga Baduy perempuan tidak ikut serta ke sini? Padahal Ibu Gede ingin silaturahmi.

JALAN KAKI 80 KM
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Banten Ajak Moeslim mengatakan, seba Baduy merupakan upacara adat tradisi sakral asli dari warga SUku Baduy yang tinggal di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Seba Baduy ini merupakan peristiwa budaya, bahkan seba Baduy ini sudah dilaksanakan secara turun menurun sejak zaman Kesultanan Banten. “Jumlah warga Baduy yang datang ke Pendopo sebanyak 1.388 orang atau tidak kurang dari delapan persen dari jumlah penduduk baduy yang jumlahnya mencapai 11.174 orang. Mereka datang mewakili dari 56 perkampungan Baduy, diantaranya dari Kampung Cikeusik, Cibeo, Ciboleger dan Cikatawarna,” katanya.

Dijelaskan Ajak, untuk perwakilan warga Baduy yang mengenakan baju dan ikat kepala putih datang ke Serang sebanyak 51 orang dengan berjalan kaki dari Rangkasbitung menuju Serang dengan menempuh perjalanan kurang lebih 80 kilometer atau 10 jam. Warga Baduy dalam mengikuti adat yang mereka pegang, yakni berjalan kaki dari perkampungan mereka di Kanekes menuju Rangkasbitung dan Serang. Demikian pula waktu pulang, mereka pantang naik kendaraan.

Menurut Ajak, seba Baduy merupakan diplomasi budaya, seba Baduy berasal dari kata sabah berarti berpergian jauh untuk meningkatkan silaturahmi antara masyarakat Kanekes dengan pemerintah setempat. Ritual seba diadakan setahun sekali, sesuai peninggalan leluhur Baduy, ritual seba sendiri berarti mendatangi atau bersilaturahim kepada pemimpin mereka yang tidak lain adalah Gubernur Banten. Mereka akan memberikan persembahan hasil bumi kepada Gubernur sebagai bentuk rasa terima kasih warga Baduy terhadap pemimpinnya. Namun, sebelum kegiatan seba ini dumulai, para warga baduy sebelumnya melakukan ritual kawulu atau melakukan puasa sebagai konsekuensi untuk menjaga lingkungan.

“Sebelum melaksanakan seba di pemerintahan Provinsi Banten, warga Baduy Luar dan Baduy Dalam ini juga melaksanakan kegiatan serupa di kantor Bupati lebak pada Jumat malam,” katanya.

LESTARIKAN ALAM
Sedangkan Kepala Desa kanekes Jaro Dainah mengatakan, seba ini untuk bersilaturahmi kepada pemerintah yang dilakukan setahun sekali. Selain bersilaturahmi, masyarakat Baduy mengajak kepada pemerintah setempat untuk menjaga kelestarian lingkungan seperti Gunung Pulosari, Gunung Karang dan Gunung Aseupan agar tidak boleh dirusak oleh manusia. Karena jika alam mengalami kerusakan maka bisa mengakibatkan bencana alam, gempa bumi, dan lain-lain. “Sebelum seba ini kami laksanakan, kami ada rapat dulu dengan para kolot-kolot (para sesepuh, red) yang ada di Baduy. Intinya agar kelestarian alam di kawasan suku baduy tidak dirusak,” kata Dainah.

Senada dikatakan Puun atau Tetua Adat Baduy Dalam Jaro Tangtu ketujuh yakni Mursyid. Katanya, kegiatan ritual tahunan warga Baduy tersebut dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur dan menjalin silaturahmi kepada pemerinta Provinsi Banten, setelah warga suku pedalaman di Banten Selatan tersebut melaksanakan panen hasil pertanian. “Intinya kami menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada pemerintah. Kami juga berpesan agar pemerintah bisa melindungi kami dan hutan yang ada di daerah kami,” kata Mursyid atau biasa dipanggil Ayah Mursyid ini. (ADV)

(Radar Banten, 30 April 2012)