Satu Abad Letusan Krakatau

Written by Disbudpar Banten on August 24th, 2011. Posted in News

Oleh TUBAGUS NAJIB

PASCA letusan Gunung Krakatau telah dilakukan penelitian di sepanjang pantai Barat Banten. Antara lain penelitian tahun 1955 yang dilakukan oleh Van Heekeren untuk melacak kubur prasejarah di pantai barat Banten di Anyer. Lalu pada tahun 1979, Pusat Penelitian Arkeologi Nasioanal melanjutkan hasil lacakan dari Van Heekeren dan telah diadakan ekskavasi, telah ditemukan rangka manusia dan bekas kubur. Antara lain berupa mangkuk (cawan), periuk kecil, manik-manik dari kalsedon atau kaca dan benda-benda perunggu (BPA 1982:5).

Tahun 1985 telah dilakukan penelitian di Caringin Labuan guna menelusuri bekas-bekas reruntuhan Kota Caringin yang tenggelam melalui penelitian anderwater telah ditemukan fundasi bangunan yang kini berada di dasar laut pada lokasi yang diperkirakan bekas muara sungai Caringin. Pada tahun 2003 telah dilakukan penelitian untuk menyusuri sebaran artefak runtuhan kota Caringin hingga sampai ke hulu dam, kanal yang juga terkena korban letusan.

Caringin sebelum tenggelam
Secara administrasi pada masa kesultanan, periode 1620-1677 daerah Banten meliputi wilayah Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang bagian barat, Kabupaten Bogor dan sebagian kecil Kabupaten Sukabumi di bagian barat. Periode 1677-1705 daerah Banten lebih meluas ke arah Timur, terutama di wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi. Batas wilayah tersebut berlangsung hingga kekuasaan pemerintahan Belanda pada tahun 1811 ( Yunus, 1995:118).

Tiga tahun setelah runtuhnya Kesultanan Banten, tahun 1816 pemerintah kolonial telah membagi Kesultanan Banten menjadi 4 wilayah, secara administrasi dibagi empat bagian yaitu: Banten Lor, Banten Kidul, Banten Tengah dan Banten Kulon. Masing-masing menjadi pusat Kabupaten. Banten Lor menjadi Kabupaten Banten Lor, pusat kotanya Serang. Banten Kidul menjadi Kabupaten Kidul, pusat kotanya Lebak, Banten Tengah menjadi Kabupaten Kabupaten Tengah pusat kotanya Pandeglang dan Banten Kulon menjadi Kabupaten Banten Kulon pusat kotanya Caringin. Satu tahun kemudian dibentuk Residen Banten dengan residen yang pertama adalah J. de B Ruijen Wi (1817-1818).

Pemecahan Banten sebagai konsekwensi runtuhnya Kesultanan Banten sehingga kedudukan pejabat kesultanan diturunkan sebagai pejabat Bupati di bawah residen yang dijabat oleh kolonial. Pejabat Bupati waktunya dibatasi dan diangkat oleh pemerintah kolonial.

Misalnya, Ki Patih Derus (Ngabehi Bahu Pringga), ia keturunan yang ke-6 dari moyangnya Batara Patandjala dan cicit dari Pangeran Astapati, beliau seorang pejabat tinggi dari Negara Kesultanan Banten pada masa menjelang keruntuhan. Pada masa kesultanan ia menjabat sebagai seorang Maha Patih Negara untuk menguasai secara otonom daerah Lebak Lewidamar dengan gelar Ngabehi Bahu Pringga.

Namun pada tahun 1816, pemerintah kolonial telah membagi Kesultanan Banten menjadi 4 kabupaten. Oleh colonial, Ki Patih Derus diangkat dengan gelar Patih di Banten Kidul, membawahi Bupati angkatan pertama dari pemerintah kolonial yang masih dipilih dari para keturunan bekas para sinuhun Negara Kesultanan Banten, yaitu yang bernama Pangeran Senadjaya alias Ratu Bagus Djamil. Ia menduduki jabatan dari tahun 1817 sampai dengan tahun 1830. Demikian juga di Banten Lor (Serang) jabatan Bupati dari zuriat Kesultanan Banten, Pangeran Mudzakar Ari Santika ( 1816-1827), dan Banten Kulon yang menjabat Bupati adalah TB.Wirajaya alias Regen Boncel. (1816- ? )

Kota-kota yang tumbuh pada awal abad ke-19 di Banten adalah Kota Kabupaten Kidul pusat kotanya di Lebak, Kabupaten Tengah pusat kotanya di Pandeglang, Kabupaten Kulon pusat kotanya di Caringin.

Caringin sebagai pusat kota Banten Kulon, telah dibuat suatu perencanaa tatakotanya. Pemilihn Caringin sebagai suatu kota kabupaten berdasarkan beberapa pertimbangan, di antaranya lokasi Caringin, sumber air tanahnya tidak asin. Caringin diapit oleh dua buah sungai, yaitu sungai Cikande yang berada di Caringin Lor dan sungai Cisanggoma yang berada di Caringin Kidul. Di samping itu telah dilakukan tataguna air dengan membuat dam dan kanal. Fungsi dam untuk mengatur debit air dan fungsi kanal untuk mengairi sawah yang yang posisinya berada di atas aliran sungai.

Dalam peta figurative schet, sungai Cisanggoma yang berada di Caringin Kidul itu sangat lebar dan dapat dilalui perahu untuk mengangkut hasil bumi dari hulu sungai Cisanggoma. Hasil bumi yang dihasilkan antara lain kopi. Kopi merupakan pelaksanan sistem tanam paksa (cultuurstelsel) yang diterapkan oleh Van Den Bosch (1825-1830). Pajak yang wajib mereka bayarkan kepada pemerintah kolonial Belanda adalah bentuk kopi. Dermaga muara sungai Cisanggoma merupakan tempat bersandar kapal-kapal besar untuk membawa hasil bumi untuk disuplai ke luar Caringin, antara lain untuk keperluan Batavia.

Selain itu, dermaga Caringin merupakan pelabuhan perdagangan internasional karena berdasarkan hasil penelitian bawah laut yang dilakukan pada tahun 1985 telah ditemukan fragmen keramik dari berbagai negara; antara lain Cina Thailand, Jepang, Belanda dll

Tenggelam
Seperti dalam cerita legenda atau cerita-cerita dalam kitab-kitab suci yang menggambarkan ulah perbuatan manusia bergelimang maksiat dan dosa, akibatnya alam sebagai tempat berpijak mengamuk. Amuk alam tidak pilih-pilih, apapun jenisya, apapun usianya, apapun orangnya dan apupun daerahnya, karena amuk alam hanyalah akibat yang disebabkan oleh ulah manusia. Bilamana sebagian manusia melakukan dosa, maka sebagian lagi juga akan menanggung akibatnya

Amuk alam yang dikaitkan dengan ulah manusia dan menimbulkan suatu kemarahan itu telah terjadi ketika meletusnya Gunung Tambora. Dalam suatu naskah Held.h.81, bahwa sebab terjadinya letusan Gunung Tambora karena perbuatan dosa seorang raja yang telah membunuh seorang ulama yang bernama Said. Ia dibunuh di lereng Gunung Tambora dan mayatnya dimasukkan dalam gua di lereng tersebut. Lalu tidak berapa lama kemudian gunung tersebut mengamuk, menghancurkan kerajaan dan manusianya. Dalam naskah diceritakan, seluruh penduduk musnah dan yang selamat hanya dua orang.

Demikian juga amuk Krakatau, menurut salah seorang mantu K.Mas Asnawi Caringin juga mantan Ketua Masjid Salafi Caringin, bahwa amuk Krakatau adalah karena ulah manusia yang bergelimangan harta yang tidak mensyukurinya malah mengkufuri nikmat yang diberikan Allah. Tidak dikeluarkan zakatnya, yang merupakan ada bagiannya bagi fakir miskin.

Gambaran kemakmuran Caringin sebagaimana diceriatakan tersebut tidak hanya pada perhiasan, juga pada alat-alat rumah tangganyapun dari bahan emas seperti tempat minum. Demikian juga kedudukan jabatan telah mempengaruhi sikap seseorang. Regent Boncel akhirnya sadar bahwa yang dihina karena kemiskinannya dan malu pada jabatan dan istrinya adalah orang tuanya sendiri, tetapi terlambat. Kratakatau meletus lebih dahulu.

Amuk alam yang dikaitkan dengan ulah manusia dan menimbulkan suatu kemarahan alam juga diyakini oleh bangsa Yunani kuno penyembah dewa api yang bernama Hephaistor dan bangsa Roma penyembah dewa yang bernama Vulcanus. Mereka percaya bahwa sang dewa memiliki tungku besar tempat melelehkan dan menempa logam. Jadi, vulkanus atau vulkan dikenal untuk sebutan gunung berapi.

Pada tahun 1900-an ilmuwan yang bernama Alfred Wegner telah menyingkap sebab-sebab amuk alam yang berupa letusan gunung berapi, juga sebelumnya seorang filsuf Yunani Aristoteles (384-322 SM) telah menyingkap sebab-sebab letusan bahwa bumi itu seperti sarang lebah dengan gua-gua besar yang mengisap angin. Angin itu dipanaskan oleh api yang besar lalu disemburkan lagi. Semburan inilah yang membentuk gunung berapi.

Dari manakah asal api tersebut?.Di dalam inti bumi tekanannya luar biasa kuat dan temperaturnya mencapai 6.000’C. Panas dan tekanan yang kuat ini menyebabkan magma mengalir membuat tudung bumi ke arah kerak bumi. Aliran magma yang digerakkan oleh panas ini disebut arus konveksi. Titik rawan di kerak bumi pecah karena tekanan magma yang naik di bawahnya. Kadang-kadang lava mengalir perlahan tapi ada kalanya ia memancar dengan kekuatan besar.

Gunung Krakatau yang memiliki tinggi sekitar 2000 meter dari atas permukaan laut telah menghancurkan ¾ bagian tubuhnya yang hanya tinggal 813 meter dari atas permukaan laut. Gesekan dua lempengan besar antara Indo-Australia dan lempengan Pasifik menyebabkan terjadinya gesekan dan tekanan yang sangat besar, sehingga menimbulkan letusan yang dahsyat. Gemuruh letusannya mampu terdengar sampai radius 3000 Km, di antaranya terdengar hingga Darwin-Australia, hempasan gelombangnya hingga sampai radius 7000 Km, atau hingga semenanjung Arab. Gelmbang Tsunami atau gelombang pasang hingga menempa pantai barat Amerika Tengah dan telah terjadi kerusakan berat di Hawai. Hujan batu vulkanik hingga sampai pada radius 780.000 Km.

Daerah-daerah yang berada di Selat Sunda, antara lain pesisir Sumatera bagian selatan dan pantai Barat Banten merupakan daerah radius guguran. Pesisir Suamatera bagian selatan antara lain telah menghantam kota Teluk Betung, Bandar Lampung. Di kota tersebut masih tertinggal jangkar kapal, pelampung suar dan kerangka kapal, lalu oleh Pemda Kodya Bandar Lampung dijadikan suatu monumen. Sedangkan pantai Barat Banten di antaranya di Kota Kabupaten Banten Kulon di Caringin. Dalam catatan sejarah korban letusan Krakatau di kota Caringin telah menelan korban sebanyak `15.000 jiwa. Lalu pusat pemerintahan dialihkan ke Menes dan berikutnya ke Pandeglang.

Tenggelamnya kota Caringin bukan legenda atau cerita fiktif tetapi benar-benar terjadi. Berdasakan penelitian arkeologi bawah air tahun 1985 atau anderwater di pantai Caringin, telah ditemukan artefak bangunan, struktur kanal, framen keramik dll, kurang lebih sekitar 20 meter dari garis pantai saat ini, bahkan hingga saat ini masih ada tiang bangunan yang diperkirakan tiang sebuah masjid Agung Caringin, jaraknya dari garis pantai sekitar 7 meter diwaktu pasang. Tiang bangunan tersebut berada di pantai Caringin atau di lokasi situs Gedung Rombeng.

Berikutnya pada tahun 2003 ini, penelitian dilakukakan untuk menyusuri hulu kanal yang pada tahun sebelumnya telah diketahui hilirnya yang ditemukan di bawah permukaan air laut. Hulu kanal telah ditemukan di desa Banyubiru, Kecamatan Labuan, sementara bentuk kanal telah berubah, posisinya sudah tidak lurus dan bentuknya seperti aliran sungai. Sebaliknya sungai Cikande yang berada pada arah lor atau Caringin Lor bentuknya semangkin menyempit. Sungai Caringin yang merupakan sungai besar dan pensuplay hasil bumi dari hulu sduah tidak bisa ditemukan lagi, yang ada sungai Cisanggoma yang besar kemungkinan Cisanggoma ini bekas kanal yang berubah menjadi seperti sungai

Pasca-letusan
Caringin sebagai kota Kabupaten pada pascaletusan ini telah dibangun kembali menjadi kota santri, telah didirikan pesantren-pesantren keluarga K.Mas Asnawi. utra-putra K.Mas Asnawi memiliki santri baik dari daerah Caringin maupun dari luar Caringin, juga dibangun pendidikan yang setara dengan sekolah umum atau madrasah.

Bukti arkeologi atas bangunan pascaletusan adalah Masjid Salafi Caringin. Sementara bangunan pesantren secara arkeologi tidak ditemukan. Nampaknya K.Mas Asnawi tidak memerlukan bangunan pesantren, ia memerlukan bangunan rumah yang di dalamnya juga berfungsi sebagai pesantren. Para santri gabung dengan keluarga, karena itu rumah-rumah keluarga besar K.Mas Asnawi Caringin bangunannya rata-rata sangat luas.

Bukti arkeologi lainnya terdapat kubur-kubur kuno di sepanjang pantainya; antara lain kubur pejabat Bupati pertama Caringin yang bernama Regent Boncel dan istrinya, kubur Pangeran Jimat (apakah ada kaitannya dengan meriam Ki Jimat?), dan kubur para pejabat Bupati lainnya. Kompleks kubur tersebut secara toponim disebut Istana Gede di Desa Pejamben. Kubur para pejabat Bupati ini bentuk nisannya artifisial, sementara kubur ulama yang berada di Desa Caringin bentuk nisannya dari batu alam, polos halus dari batuan andesit. Kubur ulama ini di antaranya kubur K.Mas Caringin. Kubur.K.Mahdi, kubur K.Mas Abdurahman.

Saran
Caringin sebagai kota santri tidak menutup kemungkinan akan mengalami perubahan lagi, apakah yang ke lebih baik ataukah ke yang lebih buruk. Bilamana ke yang lebih buruk akan terjadi bencana apalagi bagi Caringin. Caringin yang saat ini tidak hanya telah menjadi kota santri juga kota situs purbakala sebagai bukti korban dari letusan Gunung Krakatau.

Situs purbakala yang dibangun sebelum Gunung Krakatau meletus antara lain, bangunan kanal di Desa Banyubiru, Labuan, bangunan gedung Kabupaten Caringin di situs Gedong Rombeng dan Masjid kuna Caringin yang hanya tinggal tiang pancangnya di Caringin, komplek makam Regen di Pejamben. Sementara situs purbakala yang dibangun pascaletusan Gunung Krakatau antara lain, Masjid Salafi Caringin, komplek Pesantren Caringin, komplek kubur K.Mas Asnawi Caringin dan komplek kubur-kubur lainnya baik yang tersebar di pesisir maupun di arah hulu sungai.***

Penulis, Peneliti Pada Litbang Arkenas

(Kabar Banten, 23 Agustus 2011)


Trackback from your site.

Disbudpar Banten

bantenculturetourism.com

Leave a comment