Tradisi Seba Baduy untuk Lestarikan Alam

Written by Disbudpar Banten on May 1st, 2012. Posted in News

SEBA Baduy 2012 yang dipusatkan di Pendopo Gubernur Banten berlangsung meriah. Berbagai elemen menghadiri acara tahunan itu, mulai dari pejabat, pelaku seni, wartawan hingga masyarakat biasa turut menyaksikan acara itu. Kedatangan warga Baduy langsung disambut oleh Gubernur Banten Hj Ratu Atut Chosiyah, Wakil Gubernur H Rano Karno, Sekda H Muhadi, Kepala Disbudpar Ajak Moeslim, Ketua MUI AM Romli, para pejabat dan lain-lain.

Pada Sabtu (28/4) malam, masyarakat Baduy yang datang ke Pendopo terlihat rapi. Mereka duduk dengan tenang tanpa mengeluarkan suara. Mereka mengenakan pakaian hitam-hitam, ada juga yang mengenakan pakaian putih dengan ikat kepala yang khas. Mereka terdiri dari orang tua dan anak-anak. Tak ada perempuan yang ikut serta pada acara seba tersebut. Usai diterima Ibu Gede Hj Ratu Atut Chosiyah, mereka kemudian menyaksikan pertunjukan wayang golek yang dibawakan dalang Entih Arsawijaya dari Desa Cilayang, kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang.

Dari 11.174 populasi warga Baduy, hanya 1.388 orang saja yang mengikuti acara ke Pendopo Gubernur baik dari Baduy Dalam dan Baduy Luar. Tema kali ini adalah “Ngasuh Ratu Ngajak Menak, Mageuhkeun Tali Daduluran, Ngajaga Lingkungan, Pamarentah Negakeun Hukum Jeung Keadilan”.

Secara simbolis ritual itu ditandai dengan ungkapan seba atau salam dalam bentuk sejumlah pernyataan atau permohonan kepada pemerintah Provinsi Banten. Dalam ungkapan atau permohonan tersebut, mereka meminta pemerintah agar bisa menjaga alam, air dan kelestarian hutan serta menegakan hukum demi ketentraman dan keselamatan masyarakat.

Kata-kata permohonan dalam ritual seba tersebut disampaikan tokoh adat Baduy yang mewakili 12 tokoh adat masyarakat Baduy yang dikenal dengan Jaro Tangtu 12 yakni Jaro Saidi. Ungkapan itu diucapkan dalam Bahasa Sunda khas masyarakat adat Baduy. Setelah menyampaikan permohonan, secara simbolis mereka juga menyerahkan sejumlah barang bawaan berupa hasil bumi atau hasil pertanian seperti beragam hasil bumi, seperti beras, pisang, gula merah, petai, talas dan lain-lain.

Gubernur Banten Hj Ratu Atut Chosiyah mengatakan, seba Baduy merupakan bagian dari budaya khas Banten sehingga mendapat perhatian dari wisatawan baik lokal maupun mancanegara. “Kegiatan ini harus dilestarikan keberadaannya. Ibu Gede (Atut menyebut dirinya,red) juga mengucapkan terima kasih atas kiriman hasil buminya. Semoga hasil bumi warga baduy terus melimpah,” katanya.

Gubernur Atut juga berbicara dalam Bahasa Sunda. Pada prinsipnya pemerintah siap untuk melestarikan alam untuk kesejahteraan masyarakat. “Kunaon warga Baduy anu awewe teu dibawa kadieu? Padahal Ibu Gede hayang silaturahmi,” kata Atut yang artinya mengapa warga Baduy perempuan tidak ikut serta ke sini? Padahal Ibu Gede ingin silaturahmi.

JALAN KAKI 80 KM
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Banten Ajak Moeslim mengatakan, seba Baduy merupakan upacara adat tradisi sakral asli dari warga SUku Baduy yang tinggal di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Seba Baduy ini merupakan peristiwa budaya, bahkan seba Baduy ini sudah dilaksanakan secara turun menurun sejak zaman Kesultanan Banten. “Jumlah warga Baduy yang datang ke Pendopo sebanyak 1.388 orang atau tidak kurang dari delapan persen dari jumlah penduduk baduy yang jumlahnya mencapai 11.174 orang. Mereka datang mewakili dari 56 perkampungan Baduy, diantaranya dari Kampung Cikeusik, Cibeo, Ciboleger dan Cikatawarna,” katanya.

Dijelaskan Ajak, untuk perwakilan warga Baduy yang mengenakan baju dan ikat kepala putih datang ke Serang sebanyak 51 orang dengan berjalan kaki dari Rangkasbitung menuju Serang dengan menempuh perjalanan kurang lebih 80 kilometer atau 10 jam. Warga Baduy dalam mengikuti adat yang mereka pegang, yakni berjalan kaki dari perkampungan mereka di Kanekes menuju Rangkasbitung dan Serang. Demikian pula waktu pulang, mereka pantang naik kendaraan.

Menurut Ajak, seba Baduy merupakan diplomasi budaya, seba Baduy berasal dari kata sabah berarti berpergian jauh untuk meningkatkan silaturahmi antara masyarakat Kanekes dengan pemerintah setempat. Ritual seba diadakan setahun sekali, sesuai peninggalan leluhur Baduy, ritual seba sendiri berarti mendatangi atau bersilaturahim kepada pemimpin mereka yang tidak lain adalah Gubernur Banten. Mereka akan memberikan persembahan hasil bumi kepada Gubernur sebagai bentuk rasa terima kasih warga Baduy terhadap pemimpinnya. Namun, sebelum kegiatan seba ini dumulai, para warga baduy sebelumnya melakukan ritual kawulu atau melakukan puasa sebagai konsekuensi untuk menjaga lingkungan.

“Sebelum melaksanakan seba di pemerintahan Provinsi Banten, warga Baduy Luar dan Baduy Dalam ini juga melaksanakan kegiatan serupa di kantor Bupati lebak pada Jumat malam,” katanya.

LESTARIKAN ALAM
Sedangkan Kepala Desa kanekes Jaro Dainah mengatakan, seba ini untuk bersilaturahmi kepada pemerintah yang dilakukan setahun sekali. Selain bersilaturahmi, masyarakat Baduy mengajak kepada pemerintah setempat untuk menjaga kelestarian lingkungan seperti Gunung Pulosari, Gunung Karang dan Gunung Aseupan agar tidak boleh dirusak oleh manusia. Karena jika alam mengalami kerusakan maka bisa mengakibatkan bencana alam, gempa bumi, dan lain-lain. “Sebelum seba ini kami laksanakan, kami ada rapat dulu dengan para kolot-kolot (para sesepuh, red) yang ada di Baduy. Intinya agar kelestarian alam di kawasan suku baduy tidak dirusak,” kata Dainah.

Senada dikatakan Puun atau Tetua Adat Baduy Dalam Jaro Tangtu ketujuh yakni Mursyid. Katanya, kegiatan ritual tahunan warga Baduy tersebut dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur dan menjalin silaturahmi kepada pemerinta Provinsi Banten, setelah warga suku pedalaman di Banten Selatan tersebut melaksanakan panen hasil pertanian. “Intinya kami menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada pemerintah. Kami juga berpesan agar pemerintah bisa melindungi kami dan hutan yang ada di daerah kami,” kata Mursyid atau biasa dipanggil Ayah Mursyid ini. (ADV)

(Radar Banten, 30 April 2012)


Trackback from your site.

Disbudpar Banten

bantenculturetourism.com

Leave a comment