TSI Menangkan Festival Tokyo Award 2012

Written by Disbudpar Banten on November 29th, 2012. Posted in News

SALAH satu teater Indonesia yang berasal dari Banten Teater Studio Indonesia (TSI) bisa menjadi salah satu teater yang patut dibanggakan. Bukan saja rakyat teater banten khususnya tapi juga rakyat teater Indonesia. Pada 3 november 2012 TSI tampil dalam program Emerging Artist pada Festival Tokyo (F/T 12) di Ikebukuro West Exit park (TBC) Jebang. Sebuah festival seniman-seniman muda Asia yang berasal dari enam negara yang diikuti oleh sebelas grup teater terpilih setelah bersaing dengan 180 grup teater dunia lainnya.

Menurut Nandang Aradea sutradara TSI mengatakan, emerging artist program pada F/T 12 bertujuan menciptakan sebuah panggung untuk seni Asia, khususnya seniman-seniman muda Asia yang berusia dibawah 40 tahun. Bagi kelompok yang mendapatkan penghargaan tampilan terbaik atas penilaian para juri festival, akan diundang secara otomatis untuk terlibat dalam festival tahun berikutnya.

Pertunjukan Teater Studio Indonesia pada tanggal 9-11 November 2012 di Taman Ikebukuro Tokyo Metropolitan Teater yang menampilkan “Emergency: The Bionarration of a Disjointed Body” karya Nandang Aradea dinyatakan sebagai pemenang F/T Award 2012 untuk Emerging Artist Program dalam Festival Tokyo 2012. “Keputusan itu, dikemukakan oleh Profesor Tadashi Uchino sebagai Ketua dewan juri bersama juri-juri lainnya, seperti Wenguang Wu, Hidenaga Otori, Hyunsuk Seo, Akio Miyazawa, Chiaki Soma pada saat penutupan Festival Tokyo 25 November di ruang Bon in Box Teater Green pada pukul 14.00 waktu Tokyo,” jelas Nandang.

Teater Studio Indonesia dapat menyingkirkan 11 pertunjukan lainya, terutama setelah bersaing ketat dengan Singapura yang membawakan “Gay Romeo” oleh Daniel Kok Diskodanny. Menurut paparan dewan juri, karya Teater Studio Indonesia dinyatakan memiliki kelebihan orisinilitas ide dan konsep yang jelas, inovatif, dan punya konsep alur artistik jalan tersendiri yang tidak pernah mengekor pada barat walaupun Nandang Aradea pernah belajar teater di Rusia. Selain itu, karya Teater Studio Indonesia kerjanya berangkat dari hal sederhana, mengeksplorasi bambu sebagai bentuk ucapan estetika, tetapi nampak advangarde ketika menjadi pertunjukan teater.

“Dengan memenangkan ini, Teater Studio Indonesia akan diundang secara khusus untuk masuk pada F/T Main Program 2013 dan dapat menampilkan karya terbarunya. Emerging Artist Program merupakan ruang untuk mencari seniman muda Asia yang punya daya inovasi dan kreasi yang bernilai tinggi dan berbakat,” ujar Nandang yang juga dosen di salah satu perguruan di Kota Serang.

Nandang Aradea saat menerima penghargaan tersebut mengungkapkan keharuan dan terima kasih kepada dewan juri dan panitia festival Tokyo yang telah memberikan penghargaan dan apreasiasi yang besar pada teater yang dibuatnya. “Jepang sangat tepat untuk punya kesadaran menginisiasi dan memimpin penyelenggaraan festival berkelas ini, karena dengan festival jenis ini, para seniman Asia banyak melakukan perjumpaan ide-ide untuk saling mengenal, memahami dan mengapresiasi keragaman seni teater di Asia secara nyata dan dekat. Dan Asia punya kekuatan baru untuk dunia perteateran. Baik dilihat dari strategi atau pun konsep dan teori berteater”.

Untuk diketahui gagasan penciptaan teater [Emergency]: Bionarasi Tubuh Terbelah yang desain stagenya dirancang Otong Durahim ini dilatarbelakangi dengan kehendak mengkonstruksi kembali ritus-ritus baru tubuh persona sosial. Tubuh persona sosial yang kokoh, nonfiksi, dan ontentisitas, di tengah arus realitas panggung kehidupan besar kita kian lebih drama dan fiksi. Panggung kehidupan yang dikorup oleh imaji, kepalsuan, salon dan kamonesan asesoris. Emergency adalah satu situasi yang dapat membatalkan atau membuka tubuh untuk kembali pada ekspresi-ekspresi manusia yang paling dasar.

Untuk tahun depan nandang sudah menyiapkan teks teater terbarunya, yakni akan menampilkan gagasan teater “berpikir laut”. Hal ini diinspiri oleh gambar perahu pada relief perahu dalam candi Borobudur. (gito waluyo)***

(Kabar Banten, 29 November 2012)


Trackback from your site.

Disbudpar Banten

bantenculturetourism.com

Leave a comment